Kamis, 30 April 2009

Fitrah

Sejak kecil sebagian besar dari kita telah memiliki kepercayaan keagamaan yang kuat dengan hanya sedikit keimanan kepada Tuhan. Kenapa bisa dikatakan demikian? Sebab ada perbedaan antara kepercayaan kepada seperangkat dalil, dengan keimanan yang memungkinkan kita untuk menaruh keyakinan kepada kebenaran dalil dalil tersebut. Keyakinan kita tentang keagamaan yang terkesan pada masa kanak kanak, lebih banyak merupakan hal yang sangat menakutkan, sampai sampai terbawa pada masa kita sudah dewasa. Cerita neraka dengan segenap malaikat penjaganya yang kejam mampu membangkitkan realita kejiwaan yang menakutkan dari sosok Tuhan.
Namun disisi lain, Tuhan merupakan figure kabur yang lebih didefinisikan melalui abstraksi intelektual dari pada imajinasi. Tuhan sebagai figure di belakang layer yang tidak berbuat banyak, karena segala pekerjaan pengaturan alam semesta telah diwakilkan kepada para pembantunya dalam hal ini malaikat. Ia begitu Agung dan Suci, sehingga cukup baginya duduk santai di singgasana-Nya, seperti imajinasi tentang raja raja pada gambaran manusia. Akibatnya, banyak orang yang terjebak kepada imajinasi ini, sebagai batasan manusia untuk tidak membicarakan Tuhan. Dan bagi manusia biasa tidak layak untuk menyentuh wilayah ketuhanan, kecuali melalui perantara para nabi, malaikat, para wali, sebab tidak semestinya ketinggian dan keagungan Tuhan yang suci, didatangi oleh manusia yang penuh kotoran dan dosa.
Ada sebagian pendapat mengatakan, kita tidak perlu memikirkan zat atau wujud Allah, karena Tuhan telah mengutus perantara untuk setiap berkomunikasi atau menyampaikan hajatnya. Konsep birokrasi ketuhanan hinduisme dan kristiani banyak mempengaruhi pemikiran aliran ini. Akibatnya ritual keagamaan islam terasa kering karena telah dicabut dari akar yang paling essensial yaitu Allah. Ia adalah Roh alam yang menggerakkan dan mengembangkan serta meliputi segala sesuatu. Ia dekat, begitu dekat, bahkan lebih dekat dari urat leher manusia.
Agama yang kita tangkap selama ini adalah sebagai perangkat aturan dan kepercayaan yang dibebankan secara eksternal. Ia bersifat “top down” yang diberikan kepada kita untuk melaksanakan aturan aturan tersebut atau ditanamkan oleh kiai, guru, dan tradisi lingkungan kita. Hal ini sangat berbeda jika keagamaan yang timbul berasal dari jiwa, yang merupakan fitrah internal bawaan otak dan jiwa manusia, karena keagamaan yang berasal dari potensi fitrah akan sesuai dengan ajaran agama yang benar dan universal secara utuh.
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci bersih (fitrah), dan kedua orangtuanyalah yang menjadikan ia yahudi, Kristen atau majusi” (Muttafaqun Alaih)
Keimanan orangtua dan pola piker mereka akan mempengaruhi pikiran anak yang memang masih mudah terkena pengaruh, sedangkan informasi dari lingkungan terkadang lebih banyak merupakan tuntunan daripada memberdayakan fitrah dasar manusia itu sendiri. Dengan kata lain roh manusia merupakan agama itu sendiri, sebab roh manusia secara apriori telah mendapatkan amar suci,,,
“,,, Katakanlah roh itu termasuk urusan Tuhanku” (QS. Al Isra, 17:85). Namun demikian banyak kalangan menterjemahkan ayat ini menjadi “Roh sebagai rahasia Tuhanku”
Menurut Ibnu Taimiyah, dasar ilmu pengetahuan manusia yang terutama dalah fitrah-Nya atau dengan fitrah itu manusia mengetahui tentang baik dan buruk, benar dan salah. Fitrah merupakan asal kejadian manusia, yang menjadi satu dengan intuisi, hati kecil, hati nurani, dan lain lain diperkuat dan dibenarkan oleh agama.
Menurut Abu ja’far Muhammad Ibnu Ali Ibnu Al Husain Babwayh Al Qummi, menegaskan bahwa pengetahuan tentang Tuhan diperoleh manusia melalui fitrah-Nya dan hanya dengan adanya fitrah itulah manusia mendapat manfaat dan bukti bukti dan dalil dalil. Maka dengan itu, Ibnu Taimiyah menegaskan bahwa pangkal iman dan ilmu ialah ingat (dzikir) kepada Allah. Ingat kepada Allah memberi iman dan ia adalah pangkal iman pangkal ilmu.
Al Qur'an merupakan ayat kauliah yang membenarkan kenyataan ayat-ayat yang muncul dari jiwa manusia itu sendiri. Seperti rasa sayang terhadap sesama, cinta kasih, kerinduan, sifat melindungi diri, kecenderungan ingin lebih baik, dll. Semuanya bukan merupakan tuntunan untuk berbuat demikian, akan tetapi merupakan perwujudan dirinya (fitrahnya). Al qur'an menegaskan bahwa dalam fitrah diri manusia terdapat kecenderungan kecenderungan menuju kebaikan dan penolakan terhadap tindak kejahatan dan kedurhakaan. Allah tidak hanya menempatkan fitrah diri manusia ke dalam keimanan kepada yang Maha Menciptakan dan menganugerahinya kemampuan mengenal Allah, namun juga telah menciptakan di dalamnya dorongan dorongan alamiah menuju kebaikan dan penolakan terhadap perbuatan buruk, dosa dan tindakan tindakan yang merendahkan martabat manusia. Oleh karena itu, secara tanpa sadar jiwa manusia condong kepada kebaikan dan tidak suka kepada kejahatan atau kedurhakaan.

Al Qur'an surat Al Hujarat, 49 :7-8 :
" ... Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus. Sebagai karunia dan nikmat dari Allah dan Allah Maha Mengetahui lagi Bijaksana"

Munculnya perbuatan yang tidak baik, yang dianggap sepele tidak hanya merusak titik kebaikan tertentu, akan tetapi seluruh wilayah kebaikan. Mereka ada dalam satu roh yang mengandung semuanya. Roh menuntut kesucian, namun kesucian bukan roh itu sendiri. Ia menuntut keadilan, namun ia bukan pula keadilan, ia menuntut kedermawanan, atau bahkan yang lebih baik lagi, sehingga ada semacam penurunan dan bantuan yang dirasakan perlu ketika kita menghapus pembicaraan tentang moral untuk mendapatkan kebaikan yang diperintahkan roh. Bagi anak anak yang terlahir dengan keadaan fitrah baik, kebaikan merupakan hal yang lumrah dan tidak susah diperoleh. Bertanyalah pada nurani, dan manusia secara tiba-tiba akan menjadi orang baik.

Tuhan telah menganugerahi manusia fitrah dasar melalui rohani yang suci, sehingga islam mewajibkan berpuasa untuk mengendalikan hawa nafsu untuk mengembalikan kefitrahan (idul fitri) yang dilukiskan Rosulullah kepada kita seperti bayi yang baru lahir, yang lahir kedunia ini dengan membawa dasar spiritual yang suci dan sehat. Dosa dan perubahan yang terjadi  kepadanya merupakan suatu yang tidak ada hubungannya dengan sifat alamiah dasarnya. Ini merupakan suatu tindak kekerasan terhadap fitrah dan kemerosotan insting yang tidak hanya mnyebabkan penyakit kejiwaan namun juga menghalangi kemerdekaan nuraninya. Firman Allah dalam surat al-Baqarah, 2 ayat :9-10:

" Mereka hendak menipu Allah dan orang orang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar, dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah penyakitnya,,,"


____________________________________________

Sumber inspirasi : "Berguru kepada Allah" karya Abu Sangkan


Postingan lain yang berhubungan :


Comments :

2 komentar to “Fitrah”

wah ...
merinding nih...makasih ya pencerahannya
salam kenal sobat

si kumb@ng mengatakan...
on 

salam.....berjuang di jalan ALLAh....

Hambah ALLAH mengatakan...
on 

Poskan Komentar