Sejak kecil sebagian besar dari kita telah memiliki kepercayaan keagamaan yang kuat dengan hanya sedikit keimanan kepada Tuhan. Kenapa bisa dikatakan demikian? Sebab ada perbedaan antara kepercayaan kepada seperangkat dalil, dengan keimanan yang memungkinkan kita untuk menaruh keyakinan kepada kebenaran dalil dalil tersebut. Keyakinan kita tentang keagamaan yang terkesan pada masa kanak kanak, lebih banyak merupakan hal yang sangat menakutkan, sampai sampai terbawa pada masa kita sudah dewasa. Cerita neraka dengan segenap malaikat penjaganya yang kejam mampu membangkitkan realita kejiwaan yang menakutkan dari sosok Tuhan.
“,,, Katakanlah roh itu termasuk urusan Tuhanku” (QS. Al Isra, 17:85). Namun demikian banyak kalangan menterjemahkan ayat ini menjadi “Roh sebagai rahasia Tuhanku”
Al Qur'an merupakan ayat kauliah yang membenarkan kenyataan ayat-ayat yang muncul dari jiwa manusia itu sendiri. Seperti rasa sayang terhadap sesama, cinta kasih, kerinduan, sifat melindungi diri, kecenderungan ingin lebih baik, dll. Semuanya bukan merupakan tuntunan untuk berbuat demikian, akan tetapi merupakan perwujudan dirinya (fitrahnya). Al qur'an menegaskan bahwa dalam fitrah diri manusia terdapat kecenderungan kecenderungan menuju kebaikan dan penolakan terhadap tindak kejahatan dan kedurhakaan. Allah tidak hanya menempatkan fitrah diri manusia ke dalam keimanan kepada yang Maha Menciptakan dan menganugerahinya kemampuan mengenal Allah, namun juga telah menciptakan di dalamnya dorongan dorongan alamiah menuju kebaikan dan penolakan terhadap perbuatan buruk, dosa dan tindakan tindakan yang merendahkan martabat manusia. Oleh karena itu, secara tanpa sadar jiwa manusia condong kepada kebaikan dan tidak suka kepada kejahatan atau kedurhakaan.
Al Qur'an surat Al Hujarat, 49 :7-8 :
" ... Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus. Sebagai karunia dan nikmat dari Allah dan Allah Maha Mengetahui lagi Bijaksana"
Munculnya perbuatan yang tidak baik, yang dianggap sepele tidak hanya merusak titik kebaikan tertentu, akan tetapi seluruh wilayah kebaikan. Mereka ada dalam satu roh yang mengandung semuanya. Roh menuntut kesucian, namun kesucian bukan roh itu sendiri. Ia menuntut keadilan, namun ia bukan pula keadilan, ia menuntut kedermawanan, atau bahkan yang lebih baik lagi, sehingga ada semacam penurunan dan bantuan yang dirasakan perlu ketika kita menghapus pembicaraan tentang moral untuk mendapatkan kebaikan yang diperintahkan roh. Bagi anak anak yang terlahir dengan keadaan fitrah baik, kebaikan merupakan hal yang lumrah dan tidak susah diperoleh. Bertanyalah pada nurani, dan manusia secara tiba-tiba akan menjadi orang baik.
Tuhan telah menganugerahi manusia fitrah dasar melalui rohani yang suci, sehingga islam mewajibkan berpuasa untuk mengendalikan hawa nafsu untuk mengembalikan kefitrahan (idul fitri) yang dilukiskan Rosulullah kepada kita seperti bayi yang baru lahir, yang lahir kedunia ini dengan membawa dasar spiritual yang suci dan sehat. Dosa dan perubahan yang terjadi kepadanya merupakan suatu yang tidak ada hubungannya dengan sifat alamiah dasarnya. Ini merupakan suatu tindak kekerasan terhadap fitrah dan kemerosotan insting yang tidak hanya mnyebabkan penyakit kejiwaan namun juga menghalangi kemerdekaan nuraninya. Firman Allah dalam surat al-Baqarah, 2 ayat :9-10:
" Mereka hendak menipu Allah dan orang orang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar, dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah penyakitnya,,,"
____________________________________________
Sumber inspirasi : "Berguru kepada Allah" karya Abu Sangkan











wah ...
merinding nih...makasih ya pencerahannya
salam kenal sobat
salam.....berjuang di jalan ALLAh....