Jumat, 05 Juni 2009

Tips Meningkatkan Keyakinan Diri

Sobatku yang baik, kali ini saya mencoba untuk belajar bagaimana saya bisa meningkatkan keyakinan diri yang ada dalam nurani ini. Entah, seolah cahaya nurani ini kadang bersinar terang meredup atau bahkan malah mati. Ketika kita mencoba belajar sejauh mana kita bisa meningkatkan keyakinan diri ini saya teringat akan sebuah hadis :
"Wahai hamba-Ku, sesungguhnya telah Aku haramkan kepada-Ku untuk berbuat zalim, dan mengharamkan pula kepada kalian perbuatan zalim. Karena itu, janganlah kalian saling menganiaya diri kalian. Wahai hamba-Ku, kalian seluruhnya sesat kecuali orang yang telah Aku beri hidayah. Karena itu, mintalah petunjuk kepada-Ku, niscaya kalian akan Aku beri petunjuk, dengan keyakinan bahwa Allah akan memberikan apa saja jika kita yakin memintanya, tanpa sedikit pun keraguan dalam dirinya." 
(HR Muslim, Ibnu Hibban, dan Hakim).

Banyak orang diantara kita atau malah mungkin kita sendiri yang tidak menyadari bahwa kita edang menzalimi diri dan penciptanya; Allah SWT Tuhan semesta alam. Kita terus meminta kesuksesan dan kebahagiaan dalam hidup, tanpa disertai keyakinan bahwa Allah akan memberikan apa yang diminta.

Semalam saya sedikit mendapatkan pencerahan dalam sebuah forum pengajian rutinan, sahabat saya berkata bahwa Allah sesuai dengan prasangka hamba-Nya. Seorang hamba yang yakin akan pertolongan Allah, maka dengan sangat meyakinkan pula Allah akan menolongnya. Seorang hamba yang yakin bahwa doanya akan dikabulkan, maka Allah akan mengabulkan doa-doanya tersebut lebih dari yang ia minta.

Andaikan kita ragu akan pertolongan Allah, dan lebih yakin akan kemampuan diri atau pertolongan makhluk, maka yakinlah bahwa hidup kita tersebut akan penuh dengan kekecewaan. Siapa saja yang hidupnya ingin selalu dilindungi dan dimudahkan semua urusannya, namun ia tak pernah bersungguh-sungguh meningkatkan mutu keyakinannya pada Allah, maka keinginannya tersebut hanya angan-angan belaka.

Nah pertanyaannya yang muncul buat kita adalah Bagaimana cara kita meningkatkan keyakinan diri? 
Ada tiga tahapan yang harus kita lewati dalam usaha meningkatkan kualitas keyakinan diri. 
Pertama, 'ilmul yaqin. Yaitu meyakini segala sesuatu berdasarkan ilmu atau pengetahuan. Misal, di Makah ada Kabah. Kita percaya saja karena teorinya seperti itu.

Kedua, 'ainul yaqin. Yaitu keyakinan yang timbul karena kita telah melihatnya dengan mata kepala sendiri. Orang yang telah menunaikan ibadah haji sangat yakin bahwa Kabah itu ada karena ia telah melihatnya. Keyakinan karena melihat, kualitasnya akan lebih baik dibandingkan dengan keyakinan karena ilmu.

Ketiga adalah haqqul yaqin. Orang yang telah haqqul yakin akan memiliki keyakinan yang dalam dan terbukti kebenarannya. Orang yang telah merasakan nikmatnya thawaf, berdoa di Multazam, merasakan ijabahnya doa, akan memiliki keyakinan yang jauh lebih mendalam dari dua keyakinan sebelumnya. Inilah tingkat keyakinan tertinggi yang akan sulit diruntuhkan dan dicabut dari hati orang yang memilikinya.

Cara meningkatkan kualitas keyakinan diri, sejatinya harus melalui proses dan tahapan-tahapan, mulai dari 'ilmul yaqin, 'ainul yaqin, hingga haqqul yakin.

Semua yang ada di dunia ini adalah milik Allah. Maka, rugilah orang-orang yang hatinya bergantung pada selain Allah. Yakinlah, bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Mengatur segalanya. Sayangnya, kita sering mengatakan bahwa Allah itu Mahakaya, tapi kita sering takut tidak mendapatkan rezeki. Kita tahu bahwa Allah itu Maha Menentukan segala sesuatu, yang Menciptakan manusia berpasang-pasangan, tapi kita sering risau tidak mendapatkan pasangan hidup. Bila demikian, kita masih berada dalam tingkat 'ainul yaqin dan belum sampai ke tingkat haqqul yaqin.

Mengapa ada orang yang keluar dari Islam (murtad)? Sebabnya, keyakinan yang ia miliki baru sebatas 'ilmul yaqin; sebatas tahu. Ternyata, yakin kepada Allah hanya sebatas ilmu tidak cukup untuk membuat kita istiqamah. Keyakinan kita harus benar-benar meresap ke dalam sanubari. Cahaya keyakinan yang tersimpan di dalam hati seorang hamba ternyata datang dari khazanah kegaiban Allah Azza wa Jalla. Alam semesta ini terang benderang karena cahaya dari benda-benda langit yang diciptakan-Nya. Sedangkan cahaya yang menerangi hati manusia berasal dari cahaya Ilahi.

Ibnu Atha'illah dalam Hikam bertutur, "Nur yang tersimpan di dalam hati, datang dari cahaya yang langsung dari khazanah-khazanah kegaiban. Nur yang memancar dari panca indramu berasal dari ciptaan Allah; dan cahaya yang memancar dari hatimu berasal dari sifat-sifat Allah".

Dengan demikian, keterbukaan hati dalam menerima cahaya nurani inilah yang harus selalu kita jaga. Mulailah kita usahakan untuk selalu dapat mengenal hikmah di balik setiap kejadian. Jangan hanya melihat setiap kejadian dengan mata lahir saja, tapi gunakan mata hati kita. Namun, mata hati tidak akan berfungsi dengan baik, kalau selalu dikotori dengan kemaksiatan dan dosa.
_____________________________________________________________
Sumber Inspirasi : Bunga rampai dan Majelis jaringan hati
»»  read more

Kamis, 04 Juni 2009

Bisakah Kita Menjadi Manusia

Assalamu'alaikum wr.wb.

Sobatku yang baik, entah kenapa dalam benak nurani saya kali ini terbesit untuk meneriakkan sebuah kata yang mungkin sangat akstrim dan membuat nurani saya merinding, Bisakah Kita Menjadi Manusia?

Mungkin nurani kita semua menanyakan bahwa apakah selama ini kita bukan manusia? Entah,,, saya sendiri belum bisa menjawabnya, dan saya sendiri belum merasa bahwa saya bisa menjadi manusia. Namun sebuah refleksi nurani kita, saya teringat akan sebuah kata bijak yang mengungkapkan bahwa “Tugas manusia adalah menjadi manusia."
 
Melihat hal ini sebenarnya manusia, sebagaimana makhluk lainnya, manusia adalah cermin Tuhan di dunia. Dalam hadis qudsi disebutkan bahwa Dia adalah khazanah tersembunyi, yang karena ingin dikenal kemudian menciptakan makhluk. Tentu maknanya bukan pertanda kebutuhan Tuhan akan makhluk-Nya. Sebaliknya, penciptaan adalah karunia terbesar yang dengannya makhluk “menjadi eksis”.
Kejadian manusia adalah simbol praktis kasih sayang Tuhan. Karena kasih sayang-Nya, manusia yang awalnya tidak ada menjadi bernilai. Semuanya bergantung penuh kepada Tuhan, mustahil lepas dari-Nya, sampai kapan pun.

Apabila dikaitkan dengan syukur, bentuk paling utama pengungkapan rasa syukur kita adalah menyesuaikan seluruh perilaku kita dengan apa-apa yang telah digariskan-Nya. Dalam kefitrian, kita terbimbing untuk melaksanakan kasih sayang itu adalah dengan menyebarkan nilai-nilai kemanusiaan kepada sesama manusia dan seluruh alam.
Sesungguhnya, tidak ada yang luar biasa ketika kita harus mencintai sesama, membela kaum tertindas, memelihara fakir miskin dan menentang segala bentuk kezaliman. Sebab manusia itu cermin Tuhan.

Sayang, setelah eksis, manusia merasa independen, untuk kemudian berlaku seperti kacang lupa pada kulitnya.Karena menganggap diri sebagai pusat kosmos, mulailah kita berlaku sombong dan merendahkan makhluk lainnya. Baik buruk sebuah perilaku dinilai melulu dari perspektif subjektif kita. Kalau kita berkuasa, kebenaran adalah milik kita dan menentangnya adalah kesalahan. Kalau dibawah, demi menjaga kedudukan, kita menjilat penguasa. Sambil terus menginjak yang di bawah. Maka kita tidak peduli dengan jerit tangis orang yang lebih rendah dari kita. Kita tidak peduli dengan kejahatan penguasa. Kalau kita senang, itu berasal “murni usaha kita”; kalau orang lain susah, itu “memang nasibnya”. Saat kita susah dan menderita, Tuhan hadir sebagai kambing hitam. Di saat kita bahagia dan merasa aman, Tuhan kita letakkan begitu saja. Entah di mana.

Pembenaran selalu ada mengiringi setiap laku. Sebab kita tidak mau disalahkan. Kejahatan yang kita lakukan terhadap sesama dianggap dapat dicuci dengan sekadar sedekah dan beberapa ritual.

Seringkali kesalehan ritual mengunci mati rasa kita. Setelah terlaksana, segala tanggung jawab selesai. Tuhan dianggap sudah puas melihat segala laku ibadah kita. Padahal reritualan yang kita jalankan adalah bagian dari rutinitas. Setelah seluruh tenaga dan konsentrasi habis untuk memperkuat posisi keduniawian kita. Kita selalu berkonsentrasi dengan pekerjaan dunia kita. Dan konsentrasi kita terlalu sering buyar dengan hanya ibadah beberapa menit.

Pada saat yang sama kita tidak ragu untuk berbuat maksiat dan kezaliman. Kita menganggap itu bukan wilayah Tuhan. Atau kita punya pembenaran lain atas nama Tuhan. Manusia itu adalah tempatnya lalai dan dosa”, demikian sebuah ayat suci. Dan kita selalu mentolerir perbuatan dengan memelintir ayat suci ini.

Maka kita tidak ragu untuk menjual diri dan terus korupsi. Kita tidak malu memperturutkan nafsu berkuasa kita, meskipun mengorbankan rakyat. Kita tidak takut untuk mempermainkan ayat-ayat Tuhan.
Kita memang sudah sakit jiwa.

Jika waktu kita tertutup untuk kembali kepada Tuhan, kita akan tenggelam dalam kerusakan dan kelalaian.

Sesungguhnya, langkah pertama adalah senantiasa sadar dan bangkit dari kesadaran. Akan tetapi, hingga saat ini, kita masih tidur nyenyak. Mata kita terbuka, tetapi hati kita terlena dalam tidur yang berkepanjangan. Sekiranya bukan sebab banyaknya melakukan dosa, niscaya tidak demikianlah akibatnya. Kita tidak berpikir bahwa semua benda yang maujud ini akan kembali dan dihisab. Segala sesuatu yang terbatas pasti berubah dan akan mengalami kehancuran.


Tidak ada kelonggaran di sisi Allah. Di antara kebahagiaan manusia adalah bahwa ia tidak diuji dengan penyakit yang tidak dirasakannya. Sakit yang diderita tubuh mendorong kita untuk berobat ke dokter. Namun, penyakit yang tidak disertai rasa sakit lebih berbahaya ketimbang sakit yang langsung terasakan. Penyakit-penyakit hati atau jiwa hampir bersifat seperti ini.


Kelalaian, keangkuhan dan setiap maksiat yang merusak hati dan ruh tidak terasakan sakitnya oleh tubuh. Padahal penyakit ini lebih parah. Malah kadang kita lebih menikmatinya.


Cinta dunia dan cinta diri adalah sumber asasi setiap dosa, pokok setiap kejahatan, pintu setiap malapetaka, lubang setiap fitnah dan penyeru setiap kedurjanaan yang dirasakan oleh manusia dengan perasaan nyaman dan enak. Jika penderita penyakit diberitahukan bahwa sebenarnya ia sakit, niscaya ia akan membantahnya.
Apabila seseorang tidak pernah mendidik dirinya dan tidak luput dalam dirinya kecenderungan duniawi, maka dia akan merasa takut meninggalkan dunia. Hatinya penuh dengan dendam terhadap Allah dan penolong-penolong agama-Nya. Dan apakah manusia semacam ini merupakan sebaik-baik makhluk, ataukah seburuk-buruk makhluk?

“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat-menasehati dalam hal kesabaran”. 
(QS. Al-‘Ashr 103:1-3).


Pengecualian yang terdapat dalam surat ini adalah orang-orang yang beriman dan beramal saleh. Amal saleh merupakan amal yang dilaksanakan dengan ruh (keikhlasan). Tetapi kebanyakan amal-amal kita hanya dilakukan dengan anggota indera tanpa kandungan pesan-pesan seperti yang tersebut dalam surat suci itu.

Manusia seperti ini senantiasa akan melakukan maksiat siang dan malam. Ia sukar menyucikan hati sementara usianya semakin lanjut. Semakin lama manusia terlena berbuat dosa, cermin bening dihatinya sedikit demi sedikit ternoda dan menghitam. Bila hal ini terus berlanjut, ia akan berada pada satu keadaan di mana berbuat kejahatan lebih dinikmati ketimbang berbuat kebaikan.

Ketika kejahatan menjadi kebiasaan, kebaikan tidak lagi dianggap. Ketika Tuhan telah kita singgirkan dari dalam diri, kita tempatkan mahkluk lain sebagai pengganti-Nya. Ketika kita mengganti kedudukan-Nya dengan selain-Nya, sempurnalah kemusyrikan kita.


Sudah saatnya kita kembali kepada kemanusiaan kita yang fitri. Selama ini, segenap perilaku kita ternyata tidak menunjukkan bahwa kita ini manusia. Kesadaran diri bahwa kita adalah manusia yang sepantasnya berbuat sesuai dengan kemanusiaan kita adalah pembenahan paling awal. Selanjutnya, penghancuran ego, sedikit demi sedikit, harus dijadikan komitmen abadi. Ego yang menganggap diri kita lebih dari yang lain. “Tidak akan masuk surga seorang hamba yang di dalam hatinya masih ada secuil kseombongan.”


Dikisahkan dalam sebuah hadis, seorang pelacur melihat seekor anjing yang kehausan. Ia masuk ke dalam sumur, menjadikan sepatunya sebagai wadah untuk kemudian diminumkan kepada anjing tersebut. Atas perbuatan ini, pelacur itu masuk surga. Orang yang mendengar menilai bahwa kisah ini adalah bukti kasih sayang Tuhan, sehingga seorang pelacur pun dapat masuk surga.

Hal itu benar. Tetapi, ada hal yang lebih substansial. Ketika pelacur itu memberikan minuman kepada anjing, ia berkata, “Ya Allah, betapa mulia anjing ini. Ia sadar dengan keanjingannya, sedang aku tidak sadar dengan kemanusiaanku.” Kesadaran bahwa betapa dirinya demikian hina, bahkan bila dibandingkan oleh seekor anjing, membuatnya masuk ke surga.


“Barang siapa yang mengenal dirinya akan mengenal Tuhannya”

Demikian sebuah hadis menyatakan seperti itu. Manusia adalah cermin Tuhan. Kasih Tuhan harus kita terjemahkan dan bumikan ke seluruh alam. Indikasi utama terlaksana tidaknya pembumian kasih itu adalah dengan menerapkan keadilan yang menjunjung tinggi harkat kemanusiaan.


Manusia adalah cermin Tuhan. Cermin adalah subjek pasif. Kedudukan setiap cermin adalah sama dan sejajar. Sempurna tidaknya sebuah cermin tergantung sejauh mana ia dapat memantulkan kesempurnaan Subjek sesungguhnya, yaitu Tuhan. Refleksi kebertuhanan individu berbanding lurus dengan sejauh mana ia dapat menjadi media bagi menyebarnya kasih Tuhan di dunia.

Semoga senantiasa kita selalu bisa belajar dan selalu belajar dalam sisi kemanusiaan kita semua, agar pertanyaan Bisakah Kita Menjadi Manusia, itu kita bisa dengan lantang dengan menjawab "BISA".

Wassalamu'alaikum wr.wb

»»  read more

Selasa, 02 Juni 2009

New PTC Paid Click Cash


Get paid to visit websites, read emails, and sign up for programs!
Get $0.50 in your account upon signing up
Get 10% for EVERY 1st level refferal!
Join today for FREE!!!




Bisnis PTC (paid to click) adalah bisnis online yg paling mudah, tidak perlu ketrampilan, tidak perlu pengalaman, dan bisa tanpa modal sepeserpun. Hanya perlu kesabaran. Ya,,, kecuali yang jadi member premium kali ya,,,. Semoga PTC Paid Click Cash bisa menjadi salah satu alternatif para pemburu dollar via PTC.
 
Kali ini ada  PTC baru yang saya ikutin. Mungkin juga PTC ini juga baru, soalnya pas saya mendaftar  total membernya baru ada 100 orang. Ya mungkin di satu sisi ini merupakan peluang, di satu sisi juga merupakan ancaman. Tapi kata pepatah seorang yang punya jiwa enterpreneurship mampu mengubah ancaman jadi peluang. Nama situs yang saya maksud adalah Paid Click Cash

Untuk informasi mengenai PTC Paid Click Cash ini sebagai berikut :
1. Untuk bergabungnya tentu sangat sangat gratis. Silahkan KLIK DI SINI
2. 5 tingkatan refferal
3. Mendapatkan 0,5 Dollar Gratis pada saat pertama kali mendaftar
4. Untuk Pembayannya instan dan Pay outnya minimal $ 5 menggunakan paypal
5. Get paid to visit websites, read emails, and sign up for programs
6. Per click up to $ 0,1

Banyak sekali fiturnya untuk mengorek2 dollar dari Paid Click Cash ini, antara lain:
1. Get Paid to Click - Viewing Website
2. Get Paid to sign up
3. Get Paid to take survey
4. Get Paid to read ads

Bagi temen temen yang tertarik untuk bergabung dan menambah daftar PTC PTC temen temen dengan PTC Paid Click Cash silahkan KLIK DISINI

Semoga informasi ini bermanfat.
»»  read more

Mau berlangganan silahkan masukkan email di bawah ini:

Delivered by FeedBurner

Top Commenters

by SEO Marketing
Get this widget
 


Ungkapan Nurani


ShoutMix chat widget

Followers

komentar terbaru

Link Temen-Temen

Blogroll

Banner Link

Cahaya Nurani

Banner Sahabat